Tahun 2021 ?

Tahun 2021 memang salah satu tahun yang menurutku menjadi tahun yang akan selalu diingat dalam hidup, bukan karena hal manisnya, tapi karena kenangan yang membekas. Kehilangan sosok ayah, kritis karena Covid-19 dan juga kesusahan ekonomi yang kayanya hampir terjadi tiap tahun hahaha.

Awal tahun 2021 memang bisa dibilang menarik, karena pada waktu itu masa studi S1 Saya sebenarnya sudah hampir mau menginjak 5 tahun, teman – teman sudah pada lulus, lah Saya masih nyantai ngoprek dan berleha – leha hahahaa! Di tengah – tengah kenyantaian tersebut Saya serasa ditampar langsung oleh keadaan.

Ditampar oleh keadaan

Ayah saya yang selalu Saya kenal dengan sosok yang tangguh dalam menahan rasa sakit, akhirnya tumbang. Beliau drop sehabis – habisnya, bahkan untuk membuang hajat saja tidak sanggup, ingat pada waktu itu malamnya Mama menelpon mengabari Papa sudah drop, disuruh balik dan stand by di rumah. Saya emosi, karena sejujurnya manusia tak pantas untuk menakar waktu seseorang, tapi ternyata firasat mama saya benar.

Esok malamnya, Papa meninggal, kalau diingat – ingat ya sebanarnya ini merupakan waktu yang berat, Saya nangis sejadi – jadinya, bahkan yang sebelumnya menganggap

“Oh tidak ada Papa ga masalah, toh sudah besar, semuanya bisa sendiri”.

Ternyata Saya salah sejadi – jadinya, karena banyak hal yang sebenarnya dilakukan Papa di hidup “Kami” Sekeluarga, ketika beliau tiada, banyak hal – hal kecil yang sering dilakukan Papa yang hilang, salah satu contohnya sesimple mengunci semua pintu ketika malam, membukanya ketika pagi, memastikan motor bersih, membuat nasi goreng pagi – pagi, sekarang hal – hal tersebut tidak ada lagi yang melakukannya.

Juga pada waktu itu akhirnya saya tau mana yang baik, mana yang buruk, mana yang namanya keluarga dan mana yang datang ketika butuh saja. Yah kadang lucu kalau diingat – ingat kembali, bahkan ketika menyusun kursi untuk yasinan saja Saya dan adik saya sendiri yang melakukannya, sisanya duduk – duduk tanpa ada itikad membantu, namun tak apalah, memang sudah tugasnya, dan memang kita hidup sendirian pada akhirnya, tanpa bersandar di pundak orang lain.

Anyway Pa, maafkan segala kesalahan salah satu anakmu yang sering engkau banggakan ini, masih belum sepenuhnya mampu menggantikan sosokmu, masih sering lalai dan juga masih banyak hal – hal yang ngga bisa dilakukan tanpa adanya Papa. Namun Pa, akan Awan pastikan cita – cita papa tercapai satu persatu nantinya. Istirahat yang tenang, semoga papa selalu tersenyum lihat Awan dari atas sana, nanti lihat Awan sukses dan bawa nama Papa di belakang Awan.

Kena Covid-19

Belum usai luka dari satu masalah, muncul cobaan lagi, kali ini Allah kasih cobaan yang lumayan berat pada waktu itu untuk melaluinya, usai dari Jakarta yang sebenarnya karena urusan beberapa pekerjaan, ya sebut saja ganti hardware beberapa server, akhirnya malah tumbang kena Covid, padahal dirasa sudah lumayan cukup nerapin protokol kesehatan, malah kenanya di tempat keluarga, duh tapi namanya takdir ya dijalani saja.

Awal ketika positif rasanya dunia lumayan hancur, pada waktu itu covid memang sedang ganas – ganasnya, tiap hari di tempat saya Isolasi ada saja yang meninggal, kebenaran Isolasi Mandiri waktu itu masih di tempat Tante Saya di Jakarta, karena satu dan lain hal, akhirnya saya coba pulang ke Palembang karena jujur tidak ingin menyusahkan keluarga.

Namun, ternyata di Palembang Saya drop, saturasi oksigen hanya di 92-94 paling tinggi pada waktu itu, akhirnya Saya mencoba ke rumah sakit terdekat, ternyata langsung diarahkan untuk rawat inap, pikir Saya baguslah. tidak menyusahkan dan tidak akan menularkan ke keluarga terdekat. Namun di rumah sakit sebenarnya berat sekali.

Kondisi sedang drop – dropnya, bahkan Saya merasa setengah jadi mayat hidup, untuk bangun dari tempat tidur susah, untuk kencing juga susah, jalan ke wc ngga sangup karena rasanya ngos ngosan. Hari pertama saya masuk ke ruang Isolasi yang kayanya khusus untuk pasien dengan kondisi yang lumayan “berat”, Saya ingat teman sekamar namanya Pak Soleh, esoknya beliau dinyatakan sudah bisa pindah ruangan karena hasilnya sudah baik dan negatif, namun ternyata esoknya beliau meninggal. Lah, beliau yang hasilnya sudah baik saja bisa meninggal, apa lagi saya yang masih positif dan drop ? Hahaha!

Namun perlahan – lahan tapi pasti, akhirnya Saya berangsur membaik, 1 minggu awal ga bisa ngapa – ngapain, namun di minggu kedua sudah mulai berangsur bisa berjalan dengan normal dan bisa sedikit buka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang ketunda, bayangin aja Saya pada waktu itu WFH (Work from hospital)! Malah kayanya load kerjaan pada waktu itu masih banyak – banyaknya WKWKKW!

Lalu di minggu ketiga Saya akhirnya diizinkan pulang, walau saturasi oksigen saya masih diangka 95 – 96 saja, dan masih terindikasi covid, namun jumlah virus yang ditubuh Saya sudah tidak banyak lagi, dan dianggap aman untuk dipulangkan atau Isolasi di rumah.

Lulus Kuliah, akhirnya!

Well – well, akhirnya Saya setelah 5 tahun kuliah, lulus juga, bukan jadi mahasiswa yang cepat lulusnya, nilainya juga tidak begitu besar, tapi Saya bangga dengan masa perkuliahan. Banyak hal – hal yang Saya dapat pada masa ini, dimulai dari belajar berorganisasi, belajar jadi orang yang lebih berani ketika ngomong, pola pikir yang terasah untuk kritis, dapat banyak networks, dipercaya oleh dosen untuk suatu project, punya teman – teman yang menarik, dan banyak hal lagi yang jujur kalau ditulis ga habis – habis.

Pada masa kuliah yang namanya ikut organisasi kayanya sudah Saya cobain, dari mulai BEM, HIMA Jurusan sampai Ikut Organisasi kelas Nasional pun saya jabanin! Lalu masalah nilai, ga jelek – jelek amatlah, lumayan, walau ga besar, tapi porsinya cukup, karena Saya bagi rata dengan organisasi dan sambil berwirausaha juga ambil projectan dari Dosen pada waktu itu.

Yah intinya kuliah itu menarik! Terima kasih untuk Mama yang selalu mengarahkan Saya semenjak masa SMA bahwa kuliah itu penting, bukan gelarnya, tapi pola pikirnya!

Cobaan (Lagi)

Mungkin kata rencana Allah pada tahun itu belum usai, ternyata Saya yang berangsur ingin kembali naik ke atas dari keterpurukan, ternyata Allah berikan ujian lagi untuk dilalui, ini lumayan “Menarik” Dan mari kita bahas satu persatu.

Mencoba Bangkit

Pada waktu itu sebenarnya Saya merasa usaha yang saya jalani sejak 2016 dan cukup untuk menghidupi Saya sehari – hari sudah ada di titik datar dan jenuh, akhirnya mencoba memikirkan beberapa hal, salah satunya sih coba buka usaha offline, pada waktu itu jasa reparasi komputer, namanya Awan Komputer, effort yang Saya keluarin pada waktu itu lumayan banyak, mulai dari waktu, materi sampai tenaga, hingga jadinya kios kecil kecilan dan sekalian tempat Saya bekerja pada waktu itu.

Yah waktu, tenaga dan uang lumayan banyak dicurahkan, hingga akhirnya selesai dan rampung, tentunya ga lepas juga dari bantuan teman – teman seperjuangan pada waktu itu.

Jatuh Lagi

Pada Hari H, ternyata saya dapat musibah (lagi), mobil Saya kecelakaan, ancur parah, selain mobil ancur ternyata harus tanggung jawab atas kerusakan mobil orang juga kena peres polisi wkwkwk! Lucu – lucu kalau diinget, dan kayanya Saya udah ga mau inget lagi, udah pasrah hahaha.

Menutup Usaha

Terlalu banyak effort yang dikeluarkan, hingga akhirnya pada waktu itu diambil kesepakatan bersama Awan Komputer tutup, kayanya ini jasa reparasi komputer paling cepat tutupnya, hanya selang 1 hari ketika buka, esoknya tutup. Keren ? Sangat keren!

Btw tak teras, ternyata tulisan ini (Tahun 2021?) Sudah 1000 kata lebih, sudah lumayan terlalu panjang, dan kayanya sudah cukup karena kisahnya juga sudah habis, sekian dan ciao!

Leave a Comment